Selasa, 24 Agustus 2010

Saat Itu ...




Tepat sebulan sebelum meninggalnya Rd. Aang Kusumaytna Kusumahdinta atau kang Ibing , tepatnya tanggal 19 Juli 2010 beliau sempat memberikan ceramah dalam acara memperingati Isra Mi'raj nabi besar Muhammad SAW 1431 H di kampung kabandungan hilir Desa Pasir Eurih Kec. Tamansari Kab. bogor.

Satu cita - cita yang baru terwujud setelah sekian lama, untuk mengundang beliau untuk dapat mengisi acara yang dilaksanakan di tempat kami.

merasa kehilangan , itulah kata yang dapat kami terucap atas kepergian komedian serba bisa tersebut.

selamat jalan kang ... terima kasih atas karya - karya nya !

Selamat Jalan Kang Ibing



Bandung - Serangan jantung mungkin menjadi penyakit paling mematikan. Penyakit ini pula yang merenggut Raden Aang Kusmayatna Kusumahdinata alias Kang Ibing (64), budayawan dan seniman besar Jawa Barat.

Kamis malam (19/8) bertepatan dengan 9 Ramadhan 1431 Hijriyah, serangan jantung telah membuat atma Kang Ibing terpisah dari raganya.

Tokoh seni kelahiran Kabupaten Sumedang 20 Juni 1946 yang beberapa tahun terakhir ini kerap berdakwah terjatuh setelah bergegas turun dari mobil dan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil di rumahnya di Bandung, sekembalinya dari rumahnya di Sumedang.

Serangan jantung yang ditandai sesak dada, pusing, dan terjatuh, membuat pemeran tokoh Kabayan ini tak sadarkan diri hingga dinyatakan wafat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Al-Islam Bandung sekitar pukul 20.30 WIB.

"Bapak baru pulang dari Sumedang. Sehabis memarkirkan mobilnya di garasi ia kemudian buang air. Namun setelah itu mengeluh, sesak dan pusing bahkan sampai muntah. Persis di depan kandang domba, ia jatuh dan pingsan," kata Mega Kusmananda, putra keduanya.

Gangguan jantung memang telah diderita oleh Kang Ibing sejak 15 tahun lalu.

Namun, tutur Mega, ayahnya tidak pernah mengeluh bahkan ayahnya merasa sehat-sehat saja.

"Ngapain, penyakit kok dipikirin," ucap Mega menirukan mendiang ayahnya.

Ketika menyelenggarakan resepsi pernikahan anak sulungnya, Dikdik Kusmandika pada 7 Agustus, Kang Ibing sempat merasa dadanya sesak, namun itu pun tak mempengaruhi aktivitasnya sehari-hari hingga ajak menjemput. "Innalillahi wa inna illahi ro`jiun".

Kabar kepergian Kang Ibing spontan menjadi pusat perhatian termasuk Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang sedang melaksanakan umrah.

"Kang Ibing merupakan sosok seniman serba bisa dan konsisten. Jabar kehilangan atas kepergiannya," kata Gubernur Heryawan melalui sambungan telepon dari Jeddah Arab Saudi.

Begitu pula dari sahabat dan rekan mainnya di grup lawak D`Kabayan, Aom Kusman, yang terhenyak mendengar kabar bahwa sahabat lamanya itu telah pergi meninggalkan alam fana ini.

Mereka menyatakan duka cita yang aman mendalam termasuk banyak pelayat yang berdatangan ke rumah duka di Kompleks Marga Wangi, kawasan Buahbatu, Bandung.

Bagi Gubernur, figur Kang Ibing telah mampu menampilkan seni budaya Sunda lebih maju dan dikenal luas.

"Cara Kang Ibing menyajikan seni dan budaya Sunda menjadikan kesenian Sunda lebih terkenal dan dikenal luas, tidak hanya di lingkup Jabar, tapi juga secara nasional dan mancanegara," katanya.

Kang Ibing menurut Heryawan dikenal dengan gaya bodor alias jenaka khas Sunda bahkan dengan gayanya itu, Kang Ibing berhasil menyampaikan pesan moral dan pembangunan kepada masyarakat.

"Hal itu pula kesan yang membekas pada diri saya, kontribusinya cukup besar dalam mengisi pembangunan di Jawa Barat. Siapapun pasti akan kehilangan atas kepergiannya," kata Gubernur menambahkan.

Kepergian pelawak Kang Ibing tak terlalu lama berselang dengan kepergian rekan seprofesinya Yan Asmi alias Uyan dan Abah Us Us yang lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.

Kang Ibing meninggalkan seorang istri Nieke Wahyuni dan tiga putra-putri Dikdik Kusmandika, Mega Kusmananda, dan Diane Fatmawati.

Dalam perjalanan karirnya, Kang Ibing identik dengan tokoh legendaris cerita rakyat tanah Sunda, Kabayan.

Selain dikenal sebagai pelawak, alumnus Jurusan Sastra Rusia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran ini juga dikenal lewat debut film yang dibintanginya, "Si Kabayan" pada tahun 1975 setelah beberapa tampil di panggung lawak termasuk mengisi acara di televisi.

Kemudian ia membintangi sejumlah film lain seperti "Ateng The Godfather", "Bang Kojak", "Si Kabayan dan Gadis Kota", "Boss Carmad"

"Komar Si Glen Kemon Mudik", "Warisan Terlarang", dan "Di Sana Senang Di Sini Senang".

Seniman Didi Petet juga sempat memerankan tokoh Kabayan dalam sejumlah film yang dibintanginya sehingga Didi juga dikenal sebagai penerus peran yang dimainkan Kang Ibing.

Mundur dari dunia hiburan, Kang Ibing sejak beberapa tahun terakhir ini dikenal sebagai da`i atau juru dakwah.

Para penggemarnya senantiasa setia mengikuti kegiatan dakwah bahkan salah satu ceramah Kang Ibing ditampilkan dalam jejaring sosial Facebook dan Youtube.

Ia menampilkan dakwah dengan gaya jenaka yang mengundang tawa namun tak menghilangkan esensi ajaran agama yang disampaikannya.

Yang menjadi ciri khas dari dakwah Kang Ibing adalah selalu mengajak umat untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

"Selalu bersyukur dan menggunakan kenikmatan untuk beribadah ke Allah," kata Kang Ibing dalam berbagai kesempatan dakwahnya.

Hal itu menunjukkan bahwa Kang Ibing selalu mengajak pada hidup yang selalu berpikiran positif dan tidak berkeluh kesah meskipun dalam hidup pasti ada cobaan.

Kang Ibing semasa hidupnya juga bercita-cita mendirikan sebuah pondok pesantren di kampung halamannya di Cimalaka, Sumedang.

Namun pondok pesantren itu belum sempat didirikan hingga ia menyatu dengan bumi di pemakaman Gunung Puyuh, Sumedang, pada Jumat 2O Agustus 2010.

Selamat jalan Kang Ibing ...

Sabtu, 26 Juni 2010

Tinggal kenangan



akhirnya ... kini tiada lagi aktivitas berjualan seperti biasa ditempat ini , pasar yang ditempati bertahun - tahun dan menjadi kebanggaan warga jasinga ini kini tiada lagi. setelah pemerintah Kabupaten Bogor memindahkan pasar tradisional ini, entahlah mau dijadikan apa kedepannya yang jelas semua sudah " TINGGAL KENANGAN " alias sudah berakhir. Kontra tentang pemindahan pasar ini santer terdengar dari celotehan para pedagang, alasannya beragam mulai dari tempat yang kurang strategis dan takut tida ramai seperti pasar lama, tapi apa boleh buat rakyat hanya bisa menerima kebijakan Pemerintah. apapun itu semoga pasar baru bisa menjadi lebih baik untuk warga jasinga kedepannya.

Jumat, 28 Mei 2010

Perjalanan Iwan Fals

dengarkan ...
suara iwan fals

Menikmati karya-karya Iwan Fals ibarat meniti perjalanan hidup yang sarat rona. Antara yang baik dan buruk, yang sedih dan yang bahagia, yang tragis dan komedi. Silih berganti.

Iwan Fals ibarat berita. Kita bisa membaca, menyimak, dan mendengarkan kabar apa saja di balik lagu-lagu yang dilantunkannya. Iwan menuturkan sekaligus menggugat. Suara Iwan Fals adalah suara rakyat yang terpinggirkan. Bukan sesuatu yang hiperbolik jika suara Iwan Fals adalah refleksi zaman dari berbagai sekat dan dimensi kehidupan. Simak saja lagu tentang buruh yang terkena PHK:

Pesangon yang engkau kantongi
Tak cukup redakan gundah
Tajam pisau kepalan tangan
Antarkan kau ke pintu penjara

Kaum marginal memang merasa terwakili dengan sederet kata-kata yang dibungkus Iwan dalam melodi yang gundah, sarat amarah tapi mudah dicerna dan disenandungkan. Seorang guru pun merasa terwakili dalam sudut pandang Iwan.

Oemar Bakrie banyak ciptakan menteri
Oemar Bakrie, profesor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri

Juga tentang betapa masygulnya nasib kaum papa yang dianggap sebelah mata dalam 'Ambulance Zig Zag':

Kalau diantara kita jatuh sakit
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter disini
Terkait di awan tinggi

Iwan memang berani bertutur lantang. Bahkan itu dilakukannya di zaman rezim Soeharto yang represif. Pencekalan demi pencekalan akrab menyapa sosok yang dilahirkan 3 September 1961 dengan nama lengkap Virgiawan Listanto Harsoyo dari pasangan Harsoyo dan Lies Suudijah. Ayahnya seorang kolonel. Tapi, Iwan tetap tak bergeming, tak pula merasa gentar. Dia tetap bersaksi, tetap menggurat gugat.

Iwan menuding kebobrokan dan ketidakbecusan pemerintah dalam bidang transportasi. Misalnya, tentang musibah Kapal Tampomas II di perairan Masalembo karena mendayagunakan kapal bekas pada lagu 'Celoteh Camar Tolol dan Cemar':

Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas

Juga tentang musibah kereta api yang selalu ada dalam catatan muram bangsa ini:

Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi cacat dalam sejarah
Air mata, air mata
Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja?

Atau cukup hanya belasungkawa?
Aku bosan

Kata dan kalimat yang digores Iwan memang lugas, gamblang, dan menohok. Mungkin hanya sosok Iwan-lah yang mampu menjewer penguasa yang duduk dalam singgasana pemerintahan. Salah satunya adalah yang tercetus dalam lagu 'Wakil Rakyat':

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan ridur waktu sidang soal rakyat.

Tapi, terkadang Iwan masih memperlihatkan sisi yang santun dengan bermetafora melalui idiom fabel seperti pada lagu 'Belalang Tua':

Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan belalang tua
Yang tak kenyang kenyang

Tak pelak lagi Iwan Fals adalah pemusik protes negeri ini seperti halnya Bob Dylan --pemusik protes Amerika-- yang ternyata adalah sosok yang digemarinya. Walaupun lagu-lagu Iwan cenderung memasuki wilayah politik, tapi toh Iwan malah menegaskan: tak ingin bermain di wilayah politik. Banyak sudah partai politik yang ingin menjamah sosok bersahaja ini sebagai ikon politik. Iwan tetap konsisten sebagai pemusik.

Iwan Fals memulai karier musiknya sebagai pengamen. Di tahun 1978 bersama Toto Gunarto dan Helmy, Iwan membentuk kelompok musik humor Amburadul yang ikut mendukung empat album musik humor yang digagas oleh Lembaga Humor Indonesia-nya Arwah Setiawan.

Memasuki tahun 1980 mulailah Iwan bersolo karier ketika diajak bergabung oleh Musica Studios dengan merilis album Sarjana Muda dengan musik yang digarap oleh Willy Soemantri. Album ini bisa dianggap sebagai cetak biru karya-karya Iwan Fals kelak. Dalam album ini Iwan menulis lagu dengan semangat gugat yang terkadang disusupi anasir humor serta lagu bertema asmara. Artinya, Iwan tak hanya mengandalkan lagu bertema protes sosial, tapi juga menampilkan sisi romantis. Sesuatu yang lumrah dan sangat manusiawi.

Neraca tema yang imbang seperti ini pada akhirnya membuat ruang geraknya menjadi lebih leluasa. Iwan Fals bisa menjangkau kalangan mana pun. Atas bisa, bawah pun bisa. Meskipun pada kenyataannya lelaki yang rambutnya telah memutih ini lebih cenderung menjadi juru bicara kaum marginal yang terpinggirkan.

Untuk lagu bertema protes, Iwan telah menghasilkan sederet repertoar yang komprehensif mulai dari 'Oemar Bakrie', 'Galang Rambu Anarki', 'Ambulance Zig Zag', 'Sugali', 'Sore Tugu Pancoran', '1910', 'Ada Lagi Yang Mati', hingga ketika bergabung dengan berbagai kelompok seperti Swami, Kantata Takwa, Dalbo, Kantata Samsara, menghasilkan lagu-lagu seperti 'Bento' atau 'Bongkar' yang seolah menjadi anthem kaum tertindas.

Namun, kesejukan toh masih berembus dari kerongkongannya lewat lagu-lagu bernuansa romantik seperti 'Yang Terlupakan', 'Mata Indah Bola Pingpong', 'Antara Kau, Aku, dan Bekas Pacarmu'. Di antaranya, Iwan malah menyanyikan lagu karya orang lain seperti 'Kemesraan' (Franky Sahilatua), 'Jangan Tutup Dirimu' (Bagoes AA), 'Kumenanti Seorang Kekasih' (Yoesyono), 'Aku Bukan Pilihan' (Pongky Jikustik), hingga 'Ijinkan Aku Menyayangimu' (Rieka Roslan).

Menikmati karya-karya Iwan Fals ibarat meniti perjalanan hidup yang sarat rona. Antara yang baik dan buruk, yang sedih dan yang bahagia, yang tragis dan komedi. Silih berganti.

Dan, dengarkan...! Iwan pun melengkapinya dengan semburat optimisme:

Indah pagi ini, nada sumbang enyahlah kau Biarkan kami
Semoga akan tetap abadi
Pagi ini, pagi esok
Esok hari, hari nanti

Selasa, 20 April 2010

Keseimbangan - Iwan Fals


Saya tidak bisa banyak berkata-kata setelah mendengar lagu-lagu dalam CD album terbaru Iwan Fals Keseimbangan yang launching pada 20 Februari 2010 di rumahnya desa Leuwinanggung Depok. Beberapa kali memutar dua belas lagu yang ada saya cukup berkomentar bahwa album ini kaya dengan musik. Tentu saja tetap diimbangi dengan materi lagu yang berkualitas dengan lirik-lirik yang sebagian kritis, namun lebih didominasi dengan lagu-lagu yang memberi pesan untuk kelestarian alam.

Album Keseimbangan ini sebenarnya memuat sepuluh lagu 'lama' dan dua lagu baru. Lagu lama yang saya maksud adalah lagu-lagu uncommercial Iwan Fals yang rekaman livenya banyak dimiliki penggemar. Namun lagu-lagu itu semua dikemas dalam racikan baru, fresh, clingg.. Dua lagu baru yang tidak pernah saya dengar sebelumnya adalah lagu Ya Allah Kami dan lagu berjudul unik, ^O^ yang disini mbak Yos (istri Iwan) ikut menjadi backing vocal.

Pada paragraf awal saya katakan album ini kaya dengan musik, mungkin karena ada Totok Tewel sebagai lead guitar yang membuat musiknya terasa berbingkai rock?. Namun tentu saja semua pemain band berperan besar dalam hidupnya lagu-lagu dalam album ini yaitu mas Heirrie (bass - yang juga melakukan mixing), mas Edi (keyboard) serta mas Deni (drum). Tapi aah.. saya bukan pengamat musik, hanya penikmat biasa saja yang cuma bisa mengatakan sebuah lagu enak atau tidak berdasar selera pribadi dan kadar sensitif gendang telinga saya.

Yaaaah, daripada berpanjang lebar.. ngomong ini dan itu yang kalau ndak sengaja salah ketik bisa-bisa menyinggung perasaan beberapa orang (hehehe)... lebih baik dengarkan sendiri lagu-lagu di album Keseimbangan ini, dan sampaikan atau simpan komentarmu.

Perhatian: dibawah ini rekomendasi saya PRIBADI lho ya, bukan titipan atau atas nama Iwan Fals, Tiga Rambu, manajemen atau tukang parkir di pasar hehe, lha wong saya ndak ada sangkut pautnya dengan mereka. Saya cuma penggemar biasa boss.. penggemar yang menikmati musik berkualitas dan lirik lagu yang inspiratif.. hehe..

Rekomendasi saya pribadi tentang album ini... Silahkan dibeli, lumayan bagus dan ndak begitu mengecewakan (itupun kalau punya uang, kalau belum ada uangnya, jangan nyolong.. dosa! mending pinjem kaset/cd punya temen). Album ini recomended untuk didengarkan dirumah, dimobil atau bahkan di warung-warung. Juga sangat recomended dimiliki untuk langsung disimpan tanpa dibuka plastik segelnya sebagai koleksi. Mengapa? karena desain cover album ini keren. Konsep cover yang belum pernah ada pada album-album Iwan Fals sebelumnya.

Tapi untuk sekarang album ini tidak dijual di toko kaset/cd. Album ini cuma bisa dibeli di kantor PT.Tiga Rambu yaitu di Leuwinanggung (rumah Iwan Fals), atau beli secara online melalui situs resmi Iwan Fals (iwanfals.co.id). Kenapa begitu? Karena Iwan Fals sekarang memilih jalur indie untuk distribusi album terbarunya. Iwan Fals mempunyai label sendiri yaitu Fals Record.

Musik bagus.. asik.. ajiiib, lirik oke, cover keren..... Benar-benar seimbang.... (meski kata beberapa kawan harganya ndak seimbang dengan kantong mereka :P)

Ini dia list lagu dalam album Iwan Fals KESEIMBANGAN

1. Suhu (lirik Subur Raharja)
2. Ya Allah Kami
3. Hutanku (lirik MS Kaban)
4. Pohon Untuk Kehidupan (lirik Muh. Ma'mun)
5. Tanam Siram Tanam
6. Ayolah Mulai
7. Aku Menyayangimu (lirik KH Mustofa Bisri)
8. ^O^
9. Sepak Bola
10. Kuda Coklatku
11. Jendral Tua
12. Malahayati (Lirik Endang Murdopo)

Malahayati

Lirik: Endang Moerdopo
Lagu: Iwan Fals

Ketika semua tangan terpaku didagu
Ragu untuk memulai segala yang baru
Lirih terdengar suara ibu
Memanggil jiwa untuk maju

Dari tanahmu hei Aceh
Lahir perempuan perkasa
Bukan hanya untuk dikenang
Tapi dia panglima laksamana jaya
Memanggil kembali untuk berjuang

Dia Perempuan Keumala
Alam semesta restui
Lahir jaya berjiwa baja
Laksamana Malahayati
Perempuan ksatria negeri

Tinggal kubur kini hening sepi menanti
Langkah langkah baru tunas pengganti
Hei Inong Nanggroe bangkitlah berdiri
Ditanganmu kini jiwa anak negeri

Dia Perempuan Keumala
Alam semesta restui
Lahir jaya berjiwa baja
Laksamana Malahayati
Perempuan ksatria negeri

Jendral Tua

Jendral tua foto ditengah keluarga
Tersenyum dingin memandang kamera
Istrinya mati, anak dan adiknya dipenjara
Apa jadinya dan apa isi hatinya

Jendral tua masih tampan dan perkasa
Tersebar kabar banyak yang jatuh cinta
Oh medan laga, menganga minta digoda
Oh kuru setra, pada perang saudara

Jendral tua bererot jasa didadanya
Menagih janji pada ibu pertiwi
Mungkinkah ia seorang prajurit sejati
Kalaulah iya, wah sungguh celaka

Jendral tua legenda hidup nyata
Ahli strategi jago sudah teruji
Melahap sepi, didalam kamarnya sendiri
Masihkah ia, tergoda oleh dunia

Jendral tua semoga kuat imanmu
Tetaplah begitu dan tetap disitu
Cahaya itu, ingatkan aku pada bapakku
Tetap begitu, tetap di pertapaan sucimu

(bait dibawah ini ditambahkan setelah "Jendral Tua" wafat)

Jendral tua kini tinggal cerita
Diperut Lawu rumah abadimu
Janjikan madu, dan racun bagi anak cucumu
Bagai sembilu, perihkan tulang sumsumku
Tinggalkan soal, yang rumit bagi para begundal
Semoga saja, yang ditinggal tak jadi sundal
Sundal...!